Senin, 21 Desember 2015
Jamie Vardy Dari Pekerja Paruh Waktu Hingga Menjadi Seorang Idola
Jamie Vardy menjelma menjadi bintang baru di Premier League musim ini. sriker milik Leicester City ini mampu menyihir publik melalui ketajamannya di depan gawang.
Vardy kini memimpin dalam daftar topscorer Premier League mengemas 15 gol. Vardy tidak pernah membayangkan bisa setenar sekarang.cuman bermodal nekat dan kerja keras untuk berkarir di lapangan hijau,bukan seperti aguero atau rooney yang sudah kelihatan bakal menjadi pemain top, Vardy memulai kiprah di sepakbola dengan sangat lambat.
Tanda-tanda Vardy bakal menjelma menjadi pemain tenar bahkan tidak terlihat sama sekali. Ketika berusia 16 tahun, Vardy bahkan ditendang tim Akademi Sheffield Wednesday. Kemudian, Vardy pindah ke tim amatir Stocksbridge Park Steels pada 2007.
Sebenarnya kariernya cukup moncer bersama Park Steels yang bermain di Divisi Satu Selatan. Pemain 28 tahun ini mampu mencetak 66 gol dalam 106 penampilan. Namun karena pendapatan yang tidak mencukupi, disela-sela waktu bermain, Vardy bekerja sampingan.menjadi buruh pabrik.
Vardy hanya mendapatkan bayaran sebesar 30 poundsterling atau Rp 600 ribu per pertandingan. bahkan dia terpaksa harus menjadi buruh pabrik alat-alat penyangga tulang untuk menyambung hidup.
Ya, saya hampir menyerah jika saya harus jujur. Musim pertama saya di sini[Leicester saya tak menjalani musim yang bagus. Saya menyadari bahwa saya tidak cukup bagus. Saya bertanya apakah saya bisa pergi menjalani masa peminjaman di kesebelasan lain, namun mereka tak mau tahu. Lalu saya mendapatkan obrolan yang menarik dengan sang manajer. Dia mengatakan: ’Kamu hanya sedang menyerah, kamu cukup bagus.
Dari pekerjaan tersebut, Vardy mengaku bermasalah pada tulang punggung karena terlalu sering mengangkat beban,Namun hal itu tidak membuat dia kehilangan semangat dan harapan untuk bermain sepak bola.
Demi bisa bermain, Vardy terkadang berbohong kepada atasan. Dia berpura-pura cedera ketika bekerja. "Sehingga tidak perlu bekerja." Tidak kuat membagi waktu, Vardy meninggalkan pekerjaan kasar itu dan mulai menata masa depan di lapangan hijau.
Vardy pindah ke Halifax. Tapi pekerjaan itu membuat Vardy tidak bisa optimal karena punggungnya kerap bermasalah.,Terpaksa, dia hidup dari penghasilan yang pas-pasan. "Kemudian kontraknya diputus. Beruntung, tiga hari kemudian dia, meneken kontrak untuk Fletwood full-time."
Kendati kemampuannya pas-pasan di lapangan hijau, Vardy tidak pernah menyerah mengejar mimpi. Bahkan, ketika itu dia harus berurusan dengan Polisi ketika di awal-awal karier bersama Park Steels pada 2004. Vardy sampai harus memakai gelang kaki agar kepolisian bisa dengan mudah memantau pergerakannya.
Agar bisa sekadar bermain, Vardy harus mencuri-curi waktu agar bisa berlatih dan bertanding. Bahkan, untuk keluar rumah dia harus melompati pagar agar tidak diketahui orang tuanya.
"Bila melakoni pertandingan tandang, dia hanya bisa sejam di luar rumah. Setelah itu, Polisi kembali membawanya kembali ke rumah,situasi ini berlangsung selama 6 bulan."
Masalah ini bermula ketika Vardy memukuli remaja yang mengejek rekannya,yang hanya karena memakai alat bantu dengar.dia membela temannya.Namun hal itu membuatnya justru berada dalam kesulitan."
Niat baik Vardy berujung pada hukuman kurungan di rumah. Tapi Vardy ikhlas menerima cobaan ini. Bahkan, hukuman ini membuat dia menjadi pribadi yang lebih tangguh.
Kejadian itu memiliki andil dalam membentuk kepribadiannya sekarang. Ini sulit karena menimbulkan dampak langsung bagi Anda dan keluarga. Ketika orang lain menikmati kebebabasan, saya terkurung di dalam kamar.Beruntung, saya memiliki koleksi DVD yang banyak," katanya.
Kondisi ini memberikannya pelajaran,bahwa harapan tidak boleh mati meski berada di tengah kesulitan."Ini adalah kasus tentang harapan dan semangat untuk meraih mimpi,’’ katanya.
Di Fleetwood, Vardy menembus batas. Pernah suatu ketika, dia telat datang ke tempat latihan. Pelatihnya kemudian memberi hukuman berlari dengan telanjang kaki. Tapi Vardy menjalankan perintah sang pelatih melebihi batas. Di tengah musim dingin yang menusuk di Fleetwood dia berlari telanjang dada tanpa alas kaki,sungguh perjuangan yang luar biasa menginspirasi kita semua.
"Di Fleetwood, saya harus berlari bertelanjang kaki untuk menebus kesalahan seperti datang terlambat. Padahal, musim dingin di Fleetwood sangat beku," kata Vardy mengenang."Untungnya ketika itu tidak ada kamera yang mengikuti saya."
Dua tahun bermain di Fleetwood, Vardy tampil meyakinkan. 31 gol berhasil di sarangkan dari 36 pertandingan. Performa trengginas sang pemain membuat Leicester kepincut. Akhirnya, pada 2012 Vardy direkrut Leicester.
Ketika itu, Vardy berstatus sebagai pemain termahal di liga amatir dengan transfer mencapai 1,7 juta poundsterling. Bila dibandingkan ke rupiah, nilainya mencapai Rp 35 miliar. Bersama The Foxes, Leicester keluar juara Championship pada 2013-14. Leicester promosi ke Premier League.
Musim ini, Vardy menjadi buah bibir pecinta sepakbola. Selain karena ketajamannya di mulut gawang, Vardy mencetak gol di 11 laga beruntun; dia mematahkan rapor impresif milik legenda Manchester United asal Belanda, Ruud Van Nistelrooy.
Ketajaman Vardy mendapat perhatian dari manajer Timnas Inggris, Roy Hodgson. Keringat Vardy terasa manis di 2015 ketika dia dipanggil masuk skuat Tiga Singa untuk melakoni laga persahabatan Kualifikasi Piala Eropa 2016 melawan Republik Irlandia, 7 Juni 2015. Ketika itu, dia menggantikan kapten Wayne Rooney di 15 menit jelang bubaran.
Baterai telpon saya sampai cepat habis karena teman-teman saya mengirimkan ucapan selamat. Mereka teman-teman saya dari klub Divisi Amatir. Bukan dari Premier League," ujarnya.
Dipanggil ke Timnas Inggris, Vardy menyebut ibarat mimpi menjadi nyata. Pasalnya,
Vardy tidak pernah mentas di ajang sepakbola profesional hingga usianya 25 tahun."Saya akan mencubit pipi sekali lagi ketika sampai di rumah.
Rasanya, saya sekarang sedang berjalan di atas awan ketika terpilih masuk timnas. Ketika menggantikan Rooney, dia berkata 'semoga berhasil. Lakukan apa yang ingin Anda lakukan."
"Saya tidak pernah membayangkan tampil di Premier League, apalagi Timnas Inggris," kata Vardy.
Vardy memang “salah”. Tanpa diduga pemain berumur 28 tahun ini menjadi pemimpin dalam perburuan gol di liga. Dalam laga Sabtu pekan lalu, dia menjadi pahlawan dengan mencetak dua gol ke gawang Southampton – yang lebih dulu unggul 2-0. Tambahan dua gol membuat Vardy menjadi top skor sementara Liga Primer Inggris.
Koleksinya sebanyak 10 gol merupakan yang tertinggi dalam daftar top scorer hingga pekan ke-9.
Tak hanya itu, menurut Opta – perusahaan statistik sepak bola, kehebatan pemain kelahiran Sheffield jauh lebih hebat dengan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Hingga tengah pekan lalu, dua pemain yang bersaing keras menjadi pemain terbaik Dunia, baru mencetak 6 dan 3 gol.
Secara rata-rata Vardy memang lebih hebat. Dia membuat 1 gol dalam satu pertandingan. Sedangkan Ronaldo mencapai 0,75 atau 6 gol dari 9 laga. Messi yang cedera, berada di bawahnya, hanya 0,5 gol. Dari 6 pertandingan dia baru membuat 3 gol.
Tak heran bila kehebatannya mengundang kekhawatiran sang manajer. Ranieri jelas khawatir. Pria Italia yang menangani Leicester sejak musim ini, pun pasang strategi yang sama dengan manajer lainnya. Katanya, bersama stikernya yang lain yakni Riyad Mahrez, Ranieri bilang Vardy masih betah berada bersamanya.
Nigel Pearson adalah orang yang berjasa untuk Leicester. Dia yang membawa klub itu ke Liga Primer dan menyelamatkannya untuk tetap berada di divisi teratas sepak bola Inggris itu – yang di musim lalu hampir saja kembali terlempar ke Championship.
Pearson adalah orang yang sangat berjasa dalam karir Jamie Vardy. Setelah dibawa ke King Power, Vardy malah kehilangan semangat. Permainannya pun tak mengkilap.
Saat itu banyak keraguan di kepalaku. Tapi dia mengajak saya bicara dan menegaskan tempat di mana saya bermain saat itu. Hal itu membuat saya berusaha lebih keras lagi. Di musim kedua, kami mendapat promosi dan mencetak beberapa gol,” katanya.
Di awal musim ini Pearson akhirnya pergi. Dia digantikan oleh Claudio Ranieri, pelatih kawakan yang pernah menangani Chelsea. Vardy tentu sedih kehilangan orang yang pertama kali mempercayainya. “Saya sangat sedih dia tidak di sini lagi,” katanya.
Namun kepergian Pearson tak membuatnya kemudian menjadi sedih. Justru sebaliknya, dia memperlihatkan kepercayaan bekas pelatihnya itu tidak sia-sia. Gara-gara Pearson pula dia tumbuh menjadi striker ganas. Sembilan gol di Liga Primer untuk Leicester dan masuk ke timnas Inggris adalah buktinya.
Vardy pun belum mau berhenti. Sebuah gol di King Power Stadium,telah membuat sejarah baru. Namanya masuk jajaran elite striker di Liga Primer, yang mampu mencetak gol dalam 7 pertandingan berturut-turut, bersama Thierry Henry dan juga Alan Shearer, dua legenda di Liga Primer.
Dalam beberapa tahun ini, Inggris menjadikan banyaknya pemain asing di Liga Inggris menjadi kambing hitam kemerosotan prestasi tim nasional mereka,namun tidak untuk satu tahun terakhir ini. Publik Inggris mulai bisa tersenyum melihat bermunculannya bakat-bakat lokal menjadi andalan klub-klub besar Liga Inggris. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menunjukan performa luar biasa.
Inilah contoh teladan terkini melalui kerja keras dan kemauan untuk memperbaiki hidup.
Jumlah gol Vardy pada musim pertamanya di Premier League memang hanya empat. Namun ia menutupi hal tersebut dengan sepuluh assist yang delapan di antaranya tercipta dari permainan terbuka; sama banyak dengan jumlah open-play assist milik Eden Hazard, pemain terbaik Premier League musim ini. Lewat semua kerja kerasnya, Vardy akhirnya mendapat panggilan ke tim nasional. Kerja keras Vardy pula yang membuat dirinya tak berbahagia seorang diri. Termasuk di antara orang-orang yang berbahagia untuk keberhasilan Vardy adalah manajer Leicester, Nigel Pearson.
“Kisah perubahan haluannya luar biasa. Jika Anda melihat kariernya secara keseluruhan, ceritanya bagus. Barangkali ini jenis cerita yang belum terjadi di antara para pemain generasi sekarang. Untuk beberapa alasan yang tidak dapat dibicarakan di sini karakter Jamie tidak seterang-terangan yang orang-orang kira. Ia memiliki beberapa masalah yang harus ia atasi di dalam dan di luar lapangan. Dan sebagaimana kebanyakan pemain dari masa ke masa, ia memiliki kesulitan karena kepercayaan diri yang mempengaruhi hal-hal lain yang harus ia hadapi. Namun ia adalah pria yang baik. Ia adalah seseorang yang membuat saya rela menghabiskan banyak waktu bersama. Saya sangat bahagia untuknya. Saya harap ia dapat menikmati pengalaman bersama tim nasional. Saya tidak ingin Jamie menjadi Jamie Vardy yang berbeda darinya saat ini. Saya tidak ingin satupun darinya berubah,” ujar Pearson
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar